“Gotong Royong yang Tak Sukarela”

0
36
Foto Penulis, Subarman Salim

 

Foto Penulis, Subarman Salim

OPINI –klipnews.com– Gotong Royong yang Tak Sukarela (Menggunakan Raskin untuk Memobilisasi Kerja Bakti)

Pagi masih hening dan angin bergerak semilir, saat marbot masjid menggemakan suaranya, menghimbau kepada seluruh warga penerima Raskin (beras untuk orang miskin) untuk berkumpul di depan kantor lurah atau langsung ke lokasi tempat akan diadakan kerja bakti.

Bagi sebagian mereka yang suaminya berpenghasilan tak menentu, menerima Raskin adalah sebuah bentuk pertolongan, yang tak akan memberatkan jika suatu saat diminta untuk memberikan semacam balasan pamrih terkait beras yang diterimanya.

Benturan kelas

Sebenarnya konsep pamrih tidak bisa diterjemahkan sebagai salah satu jenis sogokan atau imingan. Karena, pamrih secara bahasa bermakna ‘maksud tersembunyi’. Artinya, saat pemerintah yang memang seharusnya memiliki tanggungjawab untuk menghidupi si miskin, tak dibenarkan jika memberi bantuan disertai pamrih.

Status Raskin sebagai salah satu bentuk subsidi kompensasi harga BBM, pemerintah dalam posisi wajib mendistribusikannya sesuai data yang dihimpun oleh aparatnya, tentu dengan prinsip keadilan dan tepat sasaran. Dengan program penyaluran Raskin, berdasarkan data sensus pemerintah mengharapkan kondisi perekonomian warga miskin bisa agak longgar.

Meskipun pada kasus tertentu, akan ada warga yang mengharapkan tidak hanya Raskin, tapi justru butuh kompor, minyak, gula, dan kebutuhan sembako lainnya. Sementara, bisa jadi ada warga yang sepatutnya tidak layak menerima raskin. Bisa dicurigai, kalau warga yang tak tergolong miskin, namun mendapat jatah Raskin, apakah ini kesalahan pendataan, atau karena ada hubungan tertentu dengan aparat pemerintah, ataukah hanya kedok semata demi mendapatkan jatah Raskin?

Pamrih kerja bakti

Kembali ke soal pamrih yang melekat pada bantuan Raskin. Himbauan untuk turut serta dalam kerja bakti khusus bagi penerima Raskin memiliki tekanan psikologi yang tak bisa dianggap sepele. Ada nuansa polarisasi kelas sosial yang tajam, bahwa mereka yang ikut kerja bakti sudah dapat digolongkan sebagai kaum papa.

Persoalan benturan kelas dari pamrih Raskin juga di sisi lain menjelaskan posisi pemerintah bukan lagi sekadar sebagai penyalur bantuan atau pelayan warga. Jika kompensasi penerima Raskin harus dengan kerja bakti, maka mobilisasi kerja bakti khusus warga penerima Raskin mengingatkan kita pada sosok ‘inlander’, yang dipaksa bekerja oleh penjajah.

Padahal, ibu-ibu yang datang berbaris menenteng sapu lidi dan sekop plastik itu mungkin masih punya banyak pekerjaan di rumahnya, anaknya yang butuh asupan, suaminya yang ingin diseduhkan kopi, cucian menumpuk, yang semuanya harus rela dia tinggalkan demi menjaga jatah Raskin.

Apakah ini citra untuk proyek Adipura?

Begitulah agenda pagi setiap jumat di kelurahan Lonrae dan Bajoe. Mungkin bagi sebagian besar warga dan pengguna jalan yang lain menganggap kerja bakti itu biasa saja, bahkan dianjurkan untuk diteruskan tanpa protes atau bertanya lagi. Soalnya kebersihan adalah sebagian dari iman, dan mereka yang turut membersihkan harusnya imannya makin kuat. Jadi, kuat dan bersabarlah wahai ibu-ibu.

Tapi, kerja bakti menyapu bahu jalan, membakar daun dan ranting kering, jika maksudnya untuk mendorong semangat warga menjaga kebersihan lingkungan, mengapa tidak dilakukan di sekitar pemukiman warga? Bukankah kondisi kumuh pemukiman warga pesisir lebih mendesak untuk dilakukan penanganan? Tumpukan sampah yang tak terurus akan menebar bau busuk saat hujan turun. Sampah yang berserakan nanti akan tercampur dengan kotoran ternak dan tinja manusia. Rumah-rumah yang berdesakan, yang berdiri di atas air laut itu, masih banyak yang tak difasilitasi jamban rumah.

Nah, jika target pemerintah mencanangkan gerakan bersih lingkungan, mengapa tidak dimulai dari rumah-rumah penduduk yang kumuh itu? Apakah ini terkait dengan target Adipura? Ataukah memang kebersihan hanya untuk mencitrakan kepada orang luar?

Penulis : Subarman Salim qureta.com

TINGGALKAN KOMENTAR