Sapi Muri dan Kawanan yang Terasing

0
54
Foto Penulis, Subarman Salim
Foto Penulis, Subarman Salim

OPINI –klipnews.com– Ajang Karnaval Sapi diselenggarakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Bone Sulsel menghadirkan 324 ekor sapi di terminal Petta Ponggawae. Acara kumpul sapi itu berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk jumlah peserta. Pemenang kontes untuk kategori pejantan non-Bali memiliki berat 885 kilogram, lingkar dada 227 cm, panjang badan 165 cm, dan tinggu Badan 157, 2 cm. Sapi juara Muri itu sudah ditawar Rp 70 juta. (tribunbone.com, 23/3).

Kontes sapi itu setidaknya menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menggalakkan sapi ternak. Petani di kampung diharapkan dapat memanfaatkan waktu senggangnya setelah dari sawah untuk mengurus sapi. Berkat kontes sapi itu, harga seekor sapi bisa melonjak berkali-kali lipat. Amat menggiurkan bagi petani, meski kenyataannya tidak semua petani mampu membeli bibit.

Namun, dibalik keuntungan yang menggiurkan, tampaknya ada sekelumit cerita yang bisa mengusik naluri. Menggiring sapi ke kota untuk dipamer rasanya agak ganjil, apalagi untuk maksud membuat catatan di Muri. Entahlah, tapi saya kok jadi kasihan sama si sapi. Saya pikir, modernisasi telah merebut banyak hal dari petani, menanam dan memanen bareng, waktu senggang, dan sapi.

Sejak tak lagi berperan di areal sawah, sapi-sapi kini lagaknya mirip babi, malas dan sok. Sejak jasanya tak lagi digunakan untuk membajak, sapi digemukkan di kandang. Sambil menunggu agenda tahunan, mereka akan digiring ke kota guna memenangkan kontes, sapi yang mencapai berat tertentu segera didagingkan.

Kawanan yang tak saling kenal

Modernisasi jelas tidak hanya menimpa petani. Berkat kebutuhan yang makin kompleks, para petani harus berpacu dengan waktu, mengejar target produksi. Dengan maksud efisiensi, sapi tidak lagi digunakan mengolah tanah sawah. Revolusi petani juga berefek ke sapi.

Masa-masa kerja sawah yang hanya tinggal cerita moyangnya, kini jelas sekali terlihat menunjukkan perbedaan mencolok. Sapi tidak bekerja lagi, mereka hidup nyaman, diberi asupan gizi lebih baik, makan teratur, kandang rapi tapi masa kawin yang langka. Karena di mata manusia, mereka tetap sapi, maka mereka pun harus menuruti keinginan tuannya untuk dipajang di lapangan kota.

Sapi peraih Muri itu tak tahu apa-apa, entah sejak kapan ia tidak pernah didera hasrat untuk mencumbu betina. Proses kastrasi membuatnya tak bisa lagi menikmati liarnya nalurinya yang binal. Dan kenyataan lain yang tak akan pernah mereka pahami adalah sapi-sapi gemuk yang semuanya jantan itu bukan lagi kawanan, mereka terkumpul dan digiring namun tak saling kenal.

Sialnya, karena tak punya sepatu, mereka jadi kepayahan menapak aspal panas. Diarak keliling kota, berlagak bak peserta pawai dielukkan, ditepuk-tepuk, dan diberi selendang bertuliskan nama-nama baru yang diperolehnya dari hasil kawin silang ibu dan sperma bapaknya yang diterbangkan dari negeri seberang. Kata dokter hewan, itu disebut insemnasi.

Naas tak bisa ditolak, seekor sapi meregang nyawa. Ajal menjemputnya di saat menjalani tugas berdemonstrasi sebagai bentuk dukungan program pemerintah untuk menggalakkan budidaya sapi.

Kematian seekor sapi tentu tidak dilihat sebagai sebuah kesalahan. Sapi kini adalah komoditi yang nilai ekonominya meningkat, tidak lagi sekadar alat produksi. Seekor sapi mati, akan digantikan sejuta ekor lainnya, dengan harga yang makin meningkat.

Sapi yang naik kelas

Sebagai objek baru dalam kancah kapitalis, sapi telah menaiki jenjang kelas baru. Perlakuan yang diperoleh si sapi, berbanding dengan uang yang akan diterima petani. Meskipun secara biologis, sebenarnya riwayat sapi pekerja memang sudah terputus sejak praktek insemnasi dipraktekkan secara luas.

Tak ada yang tahu, dahulu generasi terakhir sapi pekerja telah ditebus dengan kedatangan traktor. Traktor menggantikan demi mewujudkan efisiensi dan efektivitas. Begitulah cerita sederhana kapitalisme masuk kampung. Saat sapi tak punya kiprah lagi di sawah, sapi lalu digemukkan untuk produksi daging-daging. Mereka juga dibebani tugas tidak sepele: merebut gelar Muri. Kata Karl Marx, kapitalisme melakukan ekspansi ruang untuk kebutuhan produksi dan reproduksi.

Sapi sebagai mitra petani menggarap sawah adalah ruang yang telah direbut oleh kebutuhan produksi daging. Rumput liar tak lagi jadi konsumsi sapi ternakan. Sapi-sapi hanya bisa digemukkan dengan rumput gajah yang juga telah dilokalisir.

Mungkin ini adalah bagian dari proses revolusi petani, yang telah lama menggunakan tenaga sapi, melepaskannya dari beban kerja menggarap sawah. Dalam perspektif kelas binatang, status sapi kini dinaikkan levelnya. Fasilitas kandang rapi, asupan makanan yang melimpah, tambahan suntikan vitamin dan pensiun dari kerja keras membolak-balik tanah adalah hadiah untuk level kelas baru.

Apakah sapi menginginkan segala kenyamanan itu? Apakah sapi menikmati perannya sebagai ternak malas, gemuk dan dicatat di buku Muri? Hanya sapi yang bisa menjawabnya. Namun, tanpa bicara pun, situasi ini adalah gambaran terjadinya perubahan pola hubungan tuan dengan si sapi. Jika dulu sapi adalah mitra kerja dan teman hidup petani yang menggantungkan pengolahan sawahnya pada sapi, sebaliknya sapi kini adalah komoditas yang tinggi nilai ekonominya.

Kematian sapi saat kawanan lainnya didaulat sebagai pemecah rekor adalah ironi hubungan sapi-petani. Memang, kita tidak akan menghitung kerugian materil saat sapi ternakan itu mati, karena kematian pun sesuatu yang tak bisa dilawan, yang kita tentang adalah cara-cara hidup yang menempatkan keuntungan materi sebagai yang utama.

Setelah rekor Muri berhasil direbut kawanan sapi, demi citra dan atas nama proyek percontohan, mungkin esok kita akan disuguhi tontonan pawai gerombolan kerbau, yang juga digiring mengaspal keliling kota. Nanti juga akan ada parade ayam Bangkok, itik Philipina, kambing Arab, demi menorehkan tinta dalam catatan Muri.

 Penulis : Subarman Salim qureta.com

TINGGALKAN KOMENTAR